CIRI USTADZ IDEAL (1)

CIRI USTADZ IDEAL (1)

Landasan Pemikiran

Sebuah langkah maju dari orang yang ditumbuhi kesadaran dari Allah Ta`âla untuk meningkatkan kualitas keagamaan adalah mempelajari agama secara kontinyu dari salah seorang yang dianggap mumpuni.

Di Indonesia, ada beberapa istilah yang cukup familier untuk menyebut orang yang mumpuni dalam bidang agama.

Ada gelar Kyai yang disematkan oleh masyarakat untuk orang yang mumpuni dalam pemahaman agama ditambah kemampuan untuk mengayomi masyarakat. Ada gelar ulama, yang lebih menekankan pada kepakarannya.

Ada juga gelar ustadz yang nampaknya menjadi populer untuk digunakan pada era kekinian.

Ngomong-ngomong, sebenarnya apa makna ustadz? Siapa yang layak disebut ustadz? Apakah setiap orang yang berceramah disebut ustadz? Kemudian, apakah semua yang dipanggil ustadz benar-benar layak kita jadikan rujukan dalam masalah agama?

Mungkin kita mengira bahwa kata ustadz berasal dari bahasa Arab.

Padahal, kata tersebut merupakan serapan dari bahasa aslinya, bahasa Persia. Artinya: orang yang cakap dalam bidangnya.

Seperti kata ulama bernama al-Jawaliqi dalam kitabnya yang khusus menghimpun kata serapan ke dalam bahasa Arab berjudul al-Mu`arrab (halaman 25).

Kemudian, kata tersebut menjadi jamak digunakan dalam bahasa Arab dengan tetap mempertahankan makna aslinya (kecakapan).

Di zaman sekarang, kata ustadz digunakan untuk gelar tertinggi di universitas, dalam bahasa Indonesianya, Profesor.

Di Universitas al-Azhar Mesir misalnya, tidak semua yang bergelar doktor dan mengajar di kampus itu disematkan gelar ‘al-Ustadz’ (profesor) di depan namanya.

Hanya untuk yang memiliki pengalaman mengajar, menulis karya tertentu dan gelar tersebut disematkan oleh Majelis Tinggi Universitas.

Mungkin profesor dari al-Azhar akan terheran-heran umpama diajak untuk main ke Taman Pendidikan al-Quran, sekolah-sekolah agama, kajian-kajian tematik bahkan nonton ceramah di youtube. Karena banyak sekali ‘al-Ustadz’ di Indonesia dan sebagian besar masih muda-muda. Penampilannya pun bermacam-macam.

Tentu ini hanyalah soal beda penggunaan istilah semata. Tidak perlu dibesar-besarkan.

Hal yang lebih penting adalah: mau kyai, mau ulama, mau syekh, mau ustadz, mau profesor atau mau istilah apapun, kalau kita bicara soal orang yang layak dijadikan rujukan dalam ilmu agama maka kesemuanya menuntut satu hal yaitu : kapasitas diri.

Para ulama salaf dahulu sangat menghormati spesialisasi. Imam Malik (ulama besar Madinah, gurunya Imam Syafi`i) pernah berkata, “Di Masjid Nabawi ada orang-orang saleh yang kalau dipasrahi mengelola harta baitul mal pasti amanah dan kalau berdoa pasti dikabulkan. Tapi kalau soal hadis mereka tidak bisa dijadikan rujukan karena memang bukan ahlinya”.

Di zaman sekarang pun, masih berlaku semangat menghormati spesialisasi.

Saya jadi teringat ketika Grand Syekh al-Azhar (yang memimpin lembaga al-Azhar) Prof. Dr. Ahmad al-Thayyib ketika berceramah di Universitas Muhammadiyah Surakarta beberapa waktu lalu.

Kebetulan dalam ceramahnya sempat menyinggung maklumat terkait ilmu bahasa Arab.

Sebelum menyampaikannya, Beliau minta izin dulu kepada Rektor Universitas al-Azhar Prof. Dr. Muhammad al-Mahrashawi -yang waktu itu mendampingi- yang memang guru besar bidang ilmu bahasa Arab untuk menyampaikannya. Sementara Syekh Ahmad al-Thayyeb adalah guru besar bidang akidah.

Meskipun maklumat tersebut sama-sama diketahui oleh Beliau berdua, tapi begitulah para ulama, penuh tawadhu’ dan sangat menjaga spesialisasi.

Semangat spesialisasi inilah yang selalu ada sejak zaman Rasulullah, sahabat, tabi`in sampai ke zaman sekarang ini. Idealnya, sebagai umat kita pun mencontoh para ulama kita dalam menghormati spesialisasi.

Musa al Azhar : Kontributor Jaringan Sekolah BIAS untuk Mesir dan Timur Tengah.

POINT ILMU MANTIQ Ilmu mantik adalah qanun berfikir, oleh karenanya, di setiap

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Hari Kerja (Senin – Jumat) : 07.00 – 16.00 WIB
Sabtu : 08.00 – 14.00 WIBKomplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

POINT ILMU MANTIQ

POINT ILMU MANTIK

Ilmu mantik adalah qanun berfikir, oleh karenanya, di setiap disiplin ilmu sudah barang tentu membutuhkannya. “Siapa tak mengerti mantik (kaidah berfikir), tak dipercayai ilmunya”, tutur Al Ghazali (505 H).

Penggunaan qanun berfikir sudah ditemukan dalam peradaban peradaban masa lalu, seperti Mesir Kuno, Cina, Yunani.

Bahkan Will Durant dalam The Story of Civilization (Edisi bahasa Arab vol 3 hal. 250) menyebut, bahwa salah satu ajaran Sidarta Gautama adalah “kelurusan berfikir”, yang tujuannya untuk memerangi sesat pikir, sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan.

Para filsuf Yunani mulai dari Socrates, Plato sampai Aristoteles secara berkesinambungan menyempurnakan ilmu logika sebagai bantahan terhadap kaum Sophis, yang mengatakan bahwa kebenaran itu tidak ada, tidak bisa diketahui, atau setidaknya bersifat subyektif.

Hal ini menunjukkan bahwa qanun berfikir adalah sebuah kelaziman bagi manusia manapun. Oleh karenanya, tepatlah jika para ulama mendefinisikan bahwa manusia sebagai hayawan natiq : hewan (jazad hidup yang bergerak dengan keinginannya sendiri) yang berlogika.

Apabila cermat, argumen argumen di dalam Al Qur’an maupun Al Hadits sebenarnya mengandung qanun berfikir yang sangat rapi.

Kita ingat bagaimana Nabi Ibrahim menumbangkan hujjah para penyembah bintang, bulan dan matahari dengan argumen, “Ketiganya bisa menghilang, semua yang bisa menghilang tentu tidak layak menjadi sesembahan yang haq, sehingga bintang, bulan dan matahari tidak layak menjadi sesembahan yang haq”.

Rasulullah shallalLahu alaihi wa sallama ketika ditanya perihal keabsahan seorang putra menggantikan haji ibunya yang sudah wafat, tidak langsung menjawab dengan Ya atau Tidak.

Beliau mengajak penanya untuk berfikir, “Apabila ibumu punya hutang, bukankah tentu engkau bayarkan ? Begitu pula dengan haji, ia adalah hutang kewajiban kepada Tuhan, tentu bisa engkau bayarkan”.

Para ulama Islam selalu terbuka terhadap hasil karya peradaban lain dengan kritis. Karya ilmu logika dari Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dikaji, dikritisi, dipilih mana yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, bahkan diberi catatan tambahan atau pembahasan yang sekiranya perlu.

Proses ini berlangsung mulai dari Al Farabi, Ibnu Sina, Al Ghazali, Al Razi dan setetusnya sampai saat ini.

Sehingga ilmu mantik yang ada saat ini adalah buah penyempurnaan tiada henti dari para ulama Islam. Oleh karenanya, perdebatan mengenai kebolehan belajar ilmu mantik, sebenarnya bukan untuk ilmu mantik yang sudah mengalami proses penyempurnaan diatas. Melainkan untuk ilmu mantik terdahulu yang tercampur filasat Yunani.

“Itupun”, kata Imam Akhdhari yang menuliskan ilmu mantik dengan syair dalam Al Sullam Al Munauwraq, “ada sebagian ulama yang membolehkan, dengan syarat kematangan ilmu dan kefahaman ajaran Al Qur’an dan Al Sunnah. Bahkan ada yang sangat menganjurkan oleh sebab pentingnya.”

Selain membutuhkan kecakapan dalam ilmu bahasa, kecakapan dalam penguasaan qanun berfikir (ilmu mantik) adalah sebuah proses pemahaman dalil dalil syar’i. Begitu tutur Ibnu Juzai (741 H). Ulama asal Granada dalam kitab Ushul Fiqh, Taqriibu’l Wushuul.

Bahkan Imam Ghazali menyebutnya sebagai salah satu syarat ulama mujtahid.

Musa al Azhar

Musa al Azhar : Kontributor Jaringan Sekolah BIAS untuk Mesir dan Timur Tengah.

CIRI USTADZ IDEAL (1) Sebuah langkah maju dari orang yang ditumbuhi kesadaran dari Allah Ta`âla untuk

GALERI

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS
Jl. Wirosaban Barat No. 6 Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

DUKUNG GARDA TERDEPAN COVID 19, SISWA SISWI BIAS SUPPORT HIDANGAN BUKA BAGI TIM MEDIS

DUKUNG GARDA TERDEPAN COVID 19,
SISWA SISWI BIAS SUPPORT HIDANGAN BUKA BAGI TIM MEDIS

PRESS RELEASE SIBI BINA ANAK SHOLEH

SELASA, 5 MEI 2020

Sekolah Bina Anak Sholeh Yogyakarta mempraktekkan langsung pembelajaran berbasis akhlak aplikatif, dengan mendukung Garda Terdepan Covid 19 di DIY dengan hidangan buka untuk yang bertugas di Rumah Sakit atau klinik.

Pelajaran “orang-orang berjasa” dan pengamalan pembiasaan infaq siswa didedikasikan untuk mendukung perjuangan dokter dan tenaga medis yang saat ini menjadi garda terdepan tanggap wabah Covid 19.  Baik tenaga medis yang bertugas sift pagi mapun siang, dikirim langsung dari centra sekolah BIAS dari Wirosaban. Adapun untuk sift malam dikirim secara reguler air mineral dan air minum kemasan yang dikirim tiap minggu sekali. Adapun Rumah Sakit yang mendapat support moral dari keluarga besar BIAS adalah RSUD Kota Yogyakarta, RSI Hidayatulloh dan Klinik Medika Plaza Ngaglik. Pembelajaran tematik aplikatif merupakan prinsip pendidikan yang telah dikembangkan sejak 1995 di Sekolah Islam Berwawasan Internasional Bina Anak Sholeh berbasis “Learning by Doing”. Pembiasaan yang dilakukan serta dimulai sejak dini dari jenjang Batita Center, Play Group, TK dan Sekolah Dasar. Pembiasaan infaq lebih konstruktif juga dilakukan di SMP Full Day-Boarding School dan SMA BIAS Boarding School.

Dukungan para orang-orang berjasa dari siswa-siswa BIAS ini, menurut Direktur SIBI BIAS Ir. Hj. Lilik Indriati merupakan dukungan moral secara riil keluarga besar BIAS atas perjuangan dan pengorbanan para pahlawan Covid 19 di garda terdepan, yang sangat central perannya di era tanggap wabah ini. Dokter dan petugas medis adalah unsur profesi yang sangat mulia dengan tugas yang tidak ringan. Ir Lilik Indriati menekankan inilah saat semua elemen masyarakat saling mendukung dan tetap disiplin memelihara standar kebersihan, kesehatan dan keamanan dalam berinteraksi sosial. Terlebih di bulan suci Ramadhan ini umat muslim dimotivasi untuk membuktikan imannya dengan amalan-amalan nyata dan bermanfaat. Distribusi dukungan hidangan Buka ini mulai dilaksanakan pada Selasa 5 Mei 2020 dan direncanakan dilaksasnakan secara rutin setiap hari kerja hingga Selasa 19 Mei 2020 dipersiapkan 1.000 porsi buka untuk tenaga medis sebagaimana diungkapkan Humas SIBI BIAS Llis Listyaningrum, S.Pd.

Sekretariat Pusat SIBI BIAS

GALERI

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

Muslim di Jerman dan Diskriminasi

MUSLIM DI JERMAN DAN DISKRIMINASI

Credit Picture: Republika.com

Beberapa waktu lalu Ayah saya pernah mengirim beberapa kisah tentang orang orang Indonesia di Luar Negeri, khususnya di Eropa. Kadang yang dihadapi adalah perlakuan diskriminatif oleh karena mereka Islam.

Nah, bagaimana dengan di Jerman ? Khususnya di Berlin ? Apakah saya sendiri pernah mengalami bentuk-bentuk tertentu dari diskriminasi ?

Untuk mengetahui lebih lanjut, kita perlu mengerti lebih jauh soal isu diskriminasi di Jerman. Tidak seperti negara-negara lain semisal Inggris dan Prancis.

Jerman adalah negara yang tidak punya koloni setelah Perang Dunia ke Dua. Gelombang orang luar Jerman yang datang dari Turki dan Vietnam misalnya, mereka sebetulnya malah diundang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja pasca Perang Dunia ke Dua. Jadi mereka bukan ‘orang jajahan’ yang datang ke negara penjajahanya.

Tapi karena yang datang sekaligus atau berbondong bondong, mereka wajar lebih suka hidup dengan komunitasnya sendiri. Meski setelah beberapa generasi pun mereka tidak sepenuhnya bisa berasimilasi. Sehingga perbedaan masyarakatnya tetap terlihat.

Walaupun begitu, phobia atau rasa keterasingan terhadap muslim menjadi tidak se-ekstrim seperti kasus di Prancis, karena mereka sudah hidup berdampingan selama beberapa generasi. Dengan orang-orang Turki, orang Jerman pada akhirnya menyimpulkan, bahwa mereka (atau orang-orang Islam), bisa menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Tidak ada pergesekan sosial.

Sekarang setiap orang yang akan kuliah di Jerman pun pasti mendapat materi di kelas tentang “Berintegrasi”. Jadi pemerintah Jerman secara aktif sudah paham bahwa masyarakatnya semakin beragam, dan mereka berusaha agar segalanya tetap tentram.

Tapi lain halnya setelah kebijakan membuka pintu kepada para pengungsi. Banyak pihak beranggapan bahwa itu bukanlah keputusan yang bijak. Ketakutan yang terbesar malah datangnya dari luar Jerman. Yaitu Islamisasi Jerman, kriminalitas dan lain-lain. Mereka juga takut jika banyak simpatisan ISIS yang ‘menyusup’ di antara para pengungsi.

Selama saya di Jerman, memang terjadi beberapa insiden yang mencoreng nama Islam. Misalnya, penyerangan terhadap orang Yahudi, kasus menabrakkan truk ke pasar natal pada tahun 2016, perekrutan ISIS, dan lainnya. Memang media mainstream di Jerman tidak menyangkut-pautkan dengan Islam jika memang tidak ada sangkut pautnya. Tetapi bagi orang awam, mereka taunya nama dan wajahnya datang dari timur tengah, berarti itu orang Islam.

Jadi sebenarnya permasalahannya sama seperti pada umumnya, yaitu kurangnya Informasi dan pemahaman soal Islam. Dulu hal ini bukan masalah, karena dulu orang tidak peduli. Tetapi sejak peristiwa 11 September 2001 (WTC USA), semua itu berubah.

Orang-orang Jerman sendiri secara umum sebenarnya tidak berperasangka buruk, hanya kalau terus-menerus terekspos dengan berita-berita negatif, mungkin persepsi mereka bisa berubah. Rata-rata orang awam tahunya Islam itu ya ada satu. Mereka tidak tahu bahwa di dalamnya ada spektrum yang kompleks.

Argumen bahwa ajaran Islam adalah ‘benar’, bagi mereka tidak menjadikan mereka peduli dan berdampak terhadap kehidupan mereka. Dan untuk saat ini, hal itu bisa disimpulkan dari berita-berita tentang Islam di media mainstream.

Saya kira, hal Ini juga berlaku tidak hanya di Barat, sebagai mana di Indonesia juga (dari perspektif non-Islam atau “Islam KTP”).

Pihak luar yang ‘membela’ Islam di Barat saat ini adalah kaum Liberal. Tapi tentunya mereka tidak seharusnya diandalkan untuk memahamkan orang-orang tentang Islam, argumen orang Liberal untuk membela Islam tidak kuat, hanya berdasarkan pada isu “Persamaan Hak”.

Nah, lalu bagimana dengan apa yang saya alami sebagai orang Islam yang tinggal di Jerman ? Singkatnya, ya tidak ada masalah apa pun. Karena pada akhirnya bukan wajah Asia Timur saya, sehingga orang ingat saat membicarakan soal Islam.

Lain halnya kalau wajah Timur Tengah atau Afrika, atau bahkan hanya sekedar wajahnya saja yang ke-Arab Araban.

Contoh kasus seperti yang dialami teman saya serumah sekarang. Dia orang Indonesia keturunan Arab, tentu wajahnya beda. Dulu dia pernah berjalan bersama dua orang Indonesia lain, lalu ada polisi yang mendatanginya. Polisi ini dengan tidak ramah meminta dia untuk menunjukkan pospornya. Sedangkan dua orang lainnya tak dihiraukan. Lucunya, salah satu teman orang Indonesia tadi, dia punya paspor biru Amerika. Polisinya bahkan tidak berani menyentuh atau berlaku macam-macam dengan paspor Amerikanya. Ini menunjukkan bahwa “harga diri” paspor saja sudah berbeda. Tetapi ini cerita untuk lain waktu saja.

Sewaktu dia cerita tentang pengalamannya, saya kaget karena saya sendiri tidak pernah mengalami hal seperti itu. Apalagi di Berlin, kota di mana masyatakatnya sudah sangat biasa dengan multy ethnic. Ternyata dia sudah tiga kali mengalami hal serupa. Kadang polisinya sopan, kadang tidak. Dia sekarang sudah tidak berani bepergian tanpa membawa paspor. Perbedaan kita padahal hanyalah soal wajah

Dulu saya rasanya tidak pernah menjadi kaum minoritas. Bukan orang Jawa di Papua, bukan orang Tionghoa di Indonesia, atau lainnya. Di Jerman sebagai minoritas pun bukan termasuk yang berada di bawah “kaca pembesar” atau menjadi sorotan.

Saya tidak berwajah Timur Tengah, juga bukan perempuan pakai jilbab. Posisi unik seperti ini memungkinkan saya untuk berpindah-pindah antara menjadi subyek, obyek atau menjadi spektator. Perspektif ini membuahkan bermacam-macam lintasan pikiran bagi saya, yang sekarang masih belum mengerti entah mau dibawa ke mana dan belum tau manfaatnya apa.

Walau tidak pernah terdiskrimasi tetapi harus tetap hati-hati, jangan sampai lupa diri dengan lingkungan dimana kita berada.

Yusuf al Azhar: Kontributor Jaringan Sekolah BIAS untuk Jerman dan Eropa

BUNGA SAKURA DI BERLIN Pada suatu hari, saya sedang mengunjungi acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia di


ANTARA TEKNIK DAN HUMANIORA Pada suatu hari, saya sedang mengunjungi acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia di


Yusuf Al Azhar
Alumni SMA BIAS  2013
Kuliah di Fakultas Kultur- und Medienwissenschaft

Humboldt Universtät zu Berlin

 

GALERI

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

ANTARA TEKNIK DAN HUMANIORA

ANTARA TEKNIK DAN HUMANIORA

Pada suatu hari, saya sedang mengunjungi acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia di Berlin.

Di sana saya bertemu dengan banyak orang yang sebelumnya tidak pernah kenal. Layaknya rutinitas, salah satu pertanyaan yang sering diajukan saat berkenalan adalah : “kuliah di mana? jurusan apa?”

Jawaban dari pertanyaan itu sebenarnya tidak penting, walau pertanyaannya entah mengapa selalu itu itu saja, “Oh kuliah di TUB (nama Universitas Teknik di Berlin). Oh jurusannya Maschinenbau (Teknik Mesin).” Lalu mereka akan beralih ke topik pembicaraan yang lain.

Tetapi yang saya alami sedikit berbeda. Mungkin karena tidak banyak mahasiswa Indonesia yang belajar ilmu Humaniora seperti saya. Biasanya saya akan ditanya : “apa sih yang sebenarnya dipelajari?”, lalu saya biasanya berusaha menjelaskan sambil memutar otak dan mengingat-ingat materi perkuliahan yang sudah susah-susah saya coba lupakan sebelum acara dimulai. No problem.

Yang sedikit rumit, malah kalau ditanya dengan pertanyaan “mengapa”. “Mengapa kuliah ilmu Humaniora ?”

Sejak dulu rasanya menjawab pertanyaan seperti ini bikin malas. Hampir setiap saat, pada akhirnya jawaban dari pertanyaan ini juga tidak penting untuk yang bertanya.

Biasanya para dosen jurusan ini juga menyakan pertanyaan yang sama. Mungkin penjelasan dari para dosen bisa jadi bekal untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Tapi saya rasa kok berbagai jawaban mereka, kurang bisa memuaskan sekelompok anak Teknik ini. Mungkin karena jawabannya kurang relatable atau relevan.

Tapi syukurnya, beberapa waktu belakangan saya sempat banyak membaca tulisan atau menyimak video dari profesor Yuval Noah Harari, penulis buku Sapiens. Di beberapa kesempatan dia menyampaikan kesimpulan yang ternyata bisa saya ambil untuk menjawab pertanyaan seperti ini.

Di saat memilih jalur kuliah, sudah lumrah kalau seseorang memilih jurusan yang memiliki prospek kerja yang bagus. Jurusan-jurusan seperti Kedokteran, Hukum, atau Teknik sudah lama menjadi favorit.

Di dekade belakangan ini Teknik Komputer/Informatika juga menjadi jurusan favorit, karena demand atas programmer meledak. Programmer menjadi salah satu bidang pekerjaan yang dibayar cukup tinggi di Amerika.

Demand-nya pun terus meningkat karena sekarang di bidang apa pun, programmer mendapatkan peran yang semakin signifikan. Entah Automotif, Kesehatan, Perbankan, atau lainnya.

Tapi ternyata justru dengan semakin signifikannya peran teknologi di kehidupan kita, semakin krusiallah ilmu-ilmu Humaniora. Mengapa ? Coba saya jelaskan.

Mari kita coba lihat dua sektor yang akan berubah drastis karena perkembangan teknologi kita.

Yang pertama adalah sektor Automotif. Setiap perusahan automotif besar, dipimpin oleh Tesla (Jerman) sedang berusaha menyempurnakan teknologi kendaran yang bisa mengemudi sendiri.

Bahkan perusahan-perusahan yang fokusnya ke teknologi, seperti Apple dan Google, sekarang memiliki cabang perusahaan yang mengembangkan teknologi tersebut.

Ribuan programmer di perusahaan-perusahaan tersebut bekerja dan berlomba-lomba untuk menulis program/algoritma yang bisa membuat mobil berkendara tanpa pengemudi manusia.

Mengapa ? Setiap tahun tidak terhitung banyaknya orang-orang yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Teknologi ini berusaha untuk menghilangkan faktor manusia dalam lalu lintas.

Tidak hanya bertambah aman, namun lalu lintas juga akan bertambah efektif, sehingga kemacetan bisa terhindari. Banyak orang yang ‘kehilangan’ waktu berjam-jam dalam sehari karena harus mengemudikan kendaraan.

Dengan kendaraan yang bisa mengemudi sendiri, orang bisa menggunakan waktu dalam kendaraan itu untuk melakukan hal lain, atau beristirahat.

Sekarang, coba kita bayangkan suatu skenario. Suatu mobil otomatis sedang melaju di jalan yang kecil di pinggir sungai. Lalu tiba-tiba dua anak kecil yang sedang bermain berlalu ke tengah jalan tanpa mengetahui adanya mobil yang datang.

Karena kecepatannya, mobil itu tidak memiliki waktu untuk mengerem sampai berhenti. Sekarang mobil itu ‘memiliki’ dua pilihan: (1) mengelak ke samping memasuki sungai, dengan resiko membunuh penumpangnya yang mungkin sedang tertidur di kursi belakang, atau (2) berkendara menerobos dua anak itu untuk menyelamatkan penumpangnya. Nah, siapa yang harus memutuskan ? Dan bagaimana memutuskannya ?

Para filsuf mungkin sudah memikirkan jawaban dari pertanyaan moral seperti itu selama ratusan atau ribuan tahun. Tapi kesimpulan mereka tidak pernah penting, karena di situasi semacam itu, biasanya yang memutuskan ke mana sang mobil akan melaju adalah reflek atau insting sang pengendara. Dilema seperti ini akan kembali ke masing-masing individu.

Tapi lain halnya dengan mobil yang berkendara sendiri. Apabila mobil itu diprogram untuk selalu menyelamatkan penumpangnya, maka 100% dia akan melaju menerobos anak-anak itu.

Apabila mobil itu diprogram untuk mengutamakan keselamatan anak-anak, maka mobil itu 100% akan mengelak dan berbelok ke dalam sungai dan mungkin membunuh penumpangnya. Keputusannya tidak lagi bergantung pada insting atau nilai-nilai masing-masing individu.

Saat ini semua bergantung kepada siapa yang merancang program sang mobil. Dan berbeda dengan para filsuf, yang bisa memperdebatkan satu pertanyaan selama ratusan tahun tanpa mendapatkan jawaban.

Para insyinur selalu ingin mendapatkan jawaban sesegera mungkin. Karena menguasai teknologi ini tidak mudah, mungkin sepanjang hidupnya dia harus mendalami teknologi tanpa sempat menggali ilmu-ilmu kemanusiaan (Humaniora) seperti itu.

Mereka pun tidak bisa semata-mata mengandalkan keputusan seperti ini kepada atasan mereka. Karena di suatu perusahaan, atasannya atasan ujung-ujungnya adalah investor, pemegang saham, dan pasar bebas. Keputusan mereka sudah jelas akan diambil untuk menyelamatkan perusahaan/nilai sahamnya. Kadang bukan keputusan yang terbaik.

Karena itulah para filsuf tidak bisa lagi berdebat tanpa mendapatkan jawaban. Karena mereka tidak bisa lagi lepas tangan dan menyerahkan jawabannya ke masing-masing individu.

Sekarang jawaban-jawaban dari persoalan semacam ini tidak bisa lagi berdasarkan individu, namun merupakan jawaban/nilai-nilai dari dampak teknik terhadap kemanusiaan.

Inilah perspektif Sosial Humaniora terhadap Teknologi

Yusuf Al Azhar
Alumni SMA BIAS  2013
Kuliah di Fakultas Kultur- und Medienwissenschaft

Humboldt Universtät zu Berlin

 

MUSLIM DI JERMAN DAN KONSPIRASI Beberapa waktu lalu Ayah saya pernah mengirim beberapa kisah tentang orang orang Indonesia di

BUNGA SAKURA DI BERLIN Pada suatu hari, saya sedang mengunjungi acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia di

GALERI

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

BUNGA SAKURA DI BERLIN

BUNGA SAKURA DI BERLIN

Ada bunga sakura mekar tumbuh di sekitar tempat tinggal saya, sebuah gedung apartemen di kawasan Friedrichsschain Berlin. Dulunya wilayah ini termasuk Berlin Timur.

Di Jerman ada bunga sakura mekar? Ya, tapi hanya ada di kota Berlin.

Dulu setelah tembok Berlin dirubuhkan di tahun 1989, stasiun televisi Jepang Asahi mengajak para penontonnya untuk berdonasi dalam rangka penanaman pohon sakura untuk kota Berlin.

Jepang memang pernah menanam pohon sakura di beberapa negara, sebagai bentuk tanda persahabatan. Salah satunya di Washington DC, lokasinya berada di kawasan Washington Monument, yang ada tugu Obelisknya itu.

Penanaman pohon sakura di Berlin adalah sebagai hadiah Reunifikasi, antara Jerman Barat dengan Jerman Timur.

Akhirnya, 900 pohon sakura ditanam di dua kawasan titik utama di wilayah kota Berlin. Dan pohon-pohon tersebut bisa berbunga di tiap musim semi.

Pada setiap tahunnya, dibulan April atau Mei, diadakan festival untuk merayakan Persahabatan Kebudayaan dengan negara Jepang, dan diadakan di tempat tempat tersebut.

Sekitar 10 hari lamanya, biasanya masyarakat kota Berlin bisa menikmati suasana surealis ini. Tapi oleh karena ada kondisi wabah Corona sekarang, dan Berlin dalam situasi lock down, tentunya tahun ini akan berbeda.

Menurut berita, Festival Sakura di Jepang tahun ini juga ditiadakan. Hal ini juga dampak dari pandemi Corona.

Walaupun Festival Sakura tidak diadakan, kemungkinan besar masih ada orang-orang yang akan mengunjungi tempat-tempat tersebut, puncak kemekaran bunga sakura hanya sekitar 3 – 7 hari.

Karena hanya di situlah, satu satunya di Jerman tempat kawasan “kebun” bunga sakura, dan mekarnya selalu ditunggu tunggu banyak orang. Salaam.

Yusuf Al Azhar
Alumni SMA BIAS  2013
Kuliah di Fakultas Kultur- und Medienwissenschaft

Humboldt Universtät zu Berlin

 

MUSLIM DI JERMAN DAN KONSPIRASI Beberapa waktu lalu Ayah saya pernah mengirim beberapa kisah tentang orang orang Indonesia di

ANTARA TEKNIK DAN HUMANIORA Pada suatu hari, saya sedang mengunjungi acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia di

GALERI

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

BAKTI SOSIAL JELANG RAMADHAN DALAM SUASANA PANDEMI CORONA, BERSAMA RUMISH BIAS

Apa yang paling diingat warga dhuafa di sekitar BIAS? SEMBAKO MURAHnya.

Sudah menjadi agenda rutin tahunan,  Rumish BIAS  mengadakan Baksos jelang ramadhan. Berbagi rezeki bagi para dhuafa, berbagi wasilah  pahala bagi yang berpunya.

Biasanya, 1,5 bulan sebelumnya panitia (yang notabene adalah Bunda bunda sholehah dari siswa BIAS)  sudah piket bergiliran, menjadi relawan  menunggu donasi walisiswa dengan  woro- woro di sekolah, dan di group-group kelas.

Tak hanya mengandalkan donasi tunai, para Bunda juga rame rame menguras almari dan gudang rumah mereka, mencari komoditas garage sale. Lagi – lagi pasar tiban…pasar murah digelar di depan sekolah… Aneka busana, perlengkapan rumah tangga, mainan dan seabreg benda bermanfaat lainnya, berpindah pemilik dengan harga murah saja.

Bahagia rasanya melihat antusias warga yang datang  memilih barang yg mereka butuhkan.

Saat Corana datang dan masih “bertamu” hingga sekarang, aktivitas para Bunda rumish ini juga turut terhalang #dirumahaja.

Namun  baksos  sembako yang sudah  dinanti ini tak boleh gagal, bahkan mesti disegerakan , agar warga dhuafa sedikit bisa teringankan.

Mari sambut Ramadhan, dengan berbagi kepada mereka, selagi ada rezeki  yang Allah titipkan kepada kita. Berbagi untuk Paket Tebus Murah Sembako, tanggal 18 April 2020.

Rekening Donasi:

Mandiri 137 000 42711 08

An Kulin Rina Rahmawati

Konfirmasi: 0821 3670 8368

Rumish: Rumah Infaq dan Shadaqoh

 

 

Thoharoh Bagian II

THOHAROH BAGIAN II

مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Artinya: Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Maka perintah wudlu itu tidak utk menyulitkan atau memberatkan manusia. Tetapi supaya Allah mensucikan dirimu (manusia). Ada 3 aspek kesucian yg akan didapatkan oleh org yg berwudlu.
1. Jasad
2. Pikiran / akal.
3. Ruh / hatinya.

1. Jasad

Tidak hanya bersih, badan seorang muslim harus suci dari hadas ketika mereka akan menghadap Tuhannya. Hadas besar, seluruh badan mesti disucikan dengan mandi besar. Hadas kecil, hanya bagian tertentu yang perlu disucikan dengan berwudlu dan diperintahkan utk isbâgh (melebihkan) dengan cara membasuh tangan sampai ketiak dan membasuh mata kaki sampai dengan lutut. Sebagai mana dalam hadis Nabi:

عن لَقيطِ بن صَبِرَة قال: يا رسولَ الله، أخبرني عن الوضوء، قال: «أسبغِ الوضوءَ، وخَلِّلْ بينَ الأصابعِ، وبالِغْ في الاستِنشاقِ إلا أن تكونَ صائماً

Artinya: “Lebihkanlah dalam wudhu, sela-selalah di antara jari-jemarimu dan bersangatlah dalam beristinsyaq kecuali jika kamu sedang berpuasa” (HR. Abu Daud no. 142)

 

قَالَ أبو هريرة: إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ «إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الوُضُوءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

Artinya: “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya karena bekas wudhu. Siapa diantara kalian yang mampu memanjangkan cahayanya, hendaklah ia lakukan (HR. al-Bukhari no. 136)”

2. Pikiran

Orang itu berbuat, dikendalikan pikirannya. Pikiran org yg berwudlu akan menjadi jernih krn adanya harapan positif yg dijanjikan oleh Rasullullah shallalLâhu `alaihi wa Sallama.

Ketika seseorg membasuh wajah dosa dan kotoran akan keluar dari wajahnya. Demikian juga untuk bagian-bagian tubuh yg lain. Sehingga orang yang berwudlu akan menjadi bersemangat dan tidak berat melakukan perintah ini.

3. Ruh

Ketika seseorang berwudlu, maka itu identik dengan melakukan kepatuhan pada syariat. Ini akan menumbuhkan ketaqwaan karena taqwa itu artinya melakukan perintah dan menjauhi larangan.

Penutup

Tidak hanya wudlu, semua perintah Allah dan larangan Allah itu akan mempengaruhi 3 hal; jasad, akal dan ruh.

Salam,

Bu Lilik


Fenomena Pandemi Covid-19


Perintah Toharoh Al-Maidah Ayat 6 Bagian I

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

Thoharoh Bagian I

THOHAROH BAGIAN I

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٦

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Al-Maidah ayat 6).

Ayat ini selain berisi perintah wudlu bagi org mukmin yg akan mengerjakan sholat, juga menjelaskan sebagian rukun wudhu (niat, membasuh muka, membasuh kedua tangan beserta kedua siku, mengusap sebagian kepala, membasuh kaki beserta kedua mata kaki dan tertib/urut).

Sedangkan hal-hal sunnah yang terdapat dalam wudhu disimpulkan oleh para ulama dari hadis-hadis, misalnya hadis Utsman bin Affan: 

عَنْ حُمْرَانَ، مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِوَضُوءٍ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ، فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الوَضُوءِ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ ثَلاَثًا، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاَثًا، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، وَقَالَ: «مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “dari [Humran] mantan budak ‘Utsman bin ‘Affan, bahwa ia melihat ‘Utsman bin ‘Affan minta diambilkan air wudlu kemudian menuangkannya ke kedua tangannya dari bejananya, lalu ia cuci kedua tangannya tersebut hingga tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudlunya, kemudian berkumur, memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya. Kemudian mencuci mukanya tiga kali, mencuci kedua lengannya hingga siku tiga kali, mengusap kepalanya lalu mencuci setiap kakinya tiga kali. Setelah itu ia berkata, “Aku telah melihat Nabi shallalLâhu `alaihi wa Sallama berwudlu seperti wudluku ini”, kemudian Nabi bersabda: “Barangsiapa berwudlu seperti wudluku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dan tidak berbicara antara keduanya, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq Alaih, lafaz hadis dari Imam Bukhari no. 164)

Masyarakat yang tinggal di negeri empat musim atau yang memiliki musim dingin jarang mandi. Oleh karena itu perintah wudhu lebih berat bagi mereka ketimbang bagi masyarakat yang tinggal di daerah khatulistiwa.

Khususnya masyarakat Eropa bahkan membuang ritual sholat yg disitu terdapat gerakan ruku dan sujud. Apalagi wudlu terasa sekali beratnya saat musim dingin. Sekalipun begitu, wudlu itu harus dilakukan dengan perasaan ringan.

Bagi para sahabat Nabi, apapun perintah Allah dan Rasul-Nya tetap dirasa ringan dan akan dilaksanakan dengan ringan. Sementara di sekeliling kita, masih banyak umat islam yang merasa berat melakukan perintah Allah. Bahkan ekstrimnya, tidak sedikit yang bersuara keras al-Quran perlu di amandemen.

Salam,

Bu Lilik


Fenomena Pandemi Covid-19


Perintah Toharoh Al-Maidah Ayat 6 Bagian II

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

Corona

FENOMENA PANDEMI COVID-19

 ۖإِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوافَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ
وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

 Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau
yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa
perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah
maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang
yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya
petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.
(Q.S. Al-Baqoroh 26) IkhtisarAyat ini menyasar orang-orang munafiq. Orang munafiq sering mempertanyakan ayat-ayat
Al-Quran. Bukan karena tak paham pada ayat, tetapi tidak menerima (ayat dianggap tidak
logis atau tidak rasional). Bagaimana mungkin kitab Al-quran yang diagungkan, malah
membicarakan binatang yang remeh seperti nyamuk, bahkan lebih rendah atau kecil dari
nyamuk.             Peristiwa corona (virus covid-19) membuktikan hal itu. Bagaimana Allah membuktikan
kuasa-Nya. hampir semua negara geger karena virus yang sangat kecil itu. Semoga peristiwa
corona ini menjadi jalan kembalinya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Al-Quran
karena ketidakrasionalannya. 

Salam,

Bu Lilik

Sumber: Kajian Tafsir Ibnu Katsir oleh K.H. Abdul Wahid Hasyim


Perintah Thoharoh Al-Maidah Ayat 6 Bagian I


Perintah Thoharoh Al-Maidah Ayat 6 Bagian II

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru