Thoharoh Bagian II

THOHAROH BAGIAN II

مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Artinya: Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Maka perintah wudlu itu tidak utk menyulitkan atau memberatkan manusia. Tetapi supaya Allah mensucikan dirimu (manusia). Ada 3 aspek kesucian yg akan didapatkan oleh org yg berwudlu.
1. Jasad
2. Pikiran / akal.
3. Ruh / hatinya.

1. Jasad

Tidak hanya bersih, badan seorang muslim harus suci dari hadas ketika mereka akan menghadap Tuhannya. Hadas besar, seluruh badan mesti disucikan dengan mandi besar. Hadas kecil, hanya bagian tertentu yang perlu disucikan dengan berwudlu dan diperintahkan utk isbâgh (melebihkan) dengan cara membasuh tangan sampai ketiak dan membasuh mata kaki sampai dengan lutut. Sebagai mana dalam hadis Nabi:

عن لَقيطِ بن صَبِرَة قال: يا رسولَ الله، أخبرني عن الوضوء، قال: «أسبغِ الوضوءَ، وخَلِّلْ بينَ الأصابعِ، وبالِغْ في الاستِنشاقِ إلا أن تكونَ صائماً

Artinya: “Lebihkanlah dalam wudhu, sela-selalah di antara jari-jemarimu dan bersangatlah dalam beristinsyaq kecuali jika kamu sedang berpuasa” (HR. Abu Daud no. 142)

 

قَالَ أبو هريرة: إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ «إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الوُضُوءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

Artinya: “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya karena bekas wudhu. Siapa diantara kalian yang mampu memanjangkan cahayanya, hendaklah ia lakukan (HR. al-Bukhari no. 136)”

2. Pikiran

Orang itu berbuat, dikendalikan pikirannya. Pikiran org yg berwudlu akan menjadi jernih krn adanya harapan positif yg dijanjikan oleh Rasullullah shallalLâhu `alaihi wa Sallama.

Ketika seseorg membasuh wajah dosa dan kotoran akan keluar dari wajahnya. Demikian juga untuk bagian-bagian tubuh yg lain. Sehingga orang yang berwudlu akan menjadi bersemangat dan tidak berat melakukan perintah ini.

3. Ruh

Ketika seseorang berwudlu, maka itu identik dengan melakukan kepatuhan pada syariat. Ini akan menumbuhkan ketaqwaan karena taqwa itu artinya melakukan perintah dan menjauhi larangan.

Penutup

Tidak hanya wudlu, semua perintah Allah dan larangan Allah itu akan mempengaruhi 3 hal; jasad, akal dan ruh.

Salam,

Bu Lilik


Fenomena Pandemi Covid-19


Perintah Toharoh Al-Maidah Ayat 6 Bagian I

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

Thoharoh Bagian I

THOHAROH BAGIAN I

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٦

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Al-Maidah ayat 6).

Ayat ini selain berisi perintah wudlu bagi org mukmin yg akan mengerjakan sholat, juga menjelaskan sebagian rukun wudhu (niat, membasuh muka, membasuh kedua tangan beserta kedua siku, mengusap sebagian kepala, membasuh kaki beserta kedua mata kaki dan tertib/urut).

Sedangkan hal-hal sunnah yang terdapat dalam wudhu disimpulkan oleh para ulama dari hadis-hadis, misalnya hadis Utsman bin Affan: 

عَنْ حُمْرَانَ، مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِوَضُوءٍ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ، فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الوَضُوءِ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ ثَلاَثًا، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاَثًا، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، وَقَالَ: «مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “dari [Humran] mantan budak ‘Utsman bin ‘Affan, bahwa ia melihat ‘Utsman bin ‘Affan minta diambilkan air wudlu kemudian menuangkannya ke kedua tangannya dari bejananya, lalu ia cuci kedua tangannya tersebut hingga tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudlunya, kemudian berkumur, memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya. Kemudian mencuci mukanya tiga kali, mencuci kedua lengannya hingga siku tiga kali, mengusap kepalanya lalu mencuci setiap kakinya tiga kali. Setelah itu ia berkata, “Aku telah melihat Nabi shallalLâhu `alaihi wa Sallama berwudlu seperti wudluku ini”, kemudian Nabi bersabda: “Barangsiapa berwudlu seperti wudluku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dan tidak berbicara antara keduanya, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq Alaih, lafaz hadis dari Imam Bukhari no. 164)

Masyarakat yang tinggal di negeri empat musim atau yang memiliki musim dingin jarang mandi. Oleh karena itu perintah wudhu lebih berat bagi mereka ketimbang bagi masyarakat yang tinggal di daerah khatulistiwa.

Khususnya masyarakat Eropa bahkan membuang ritual sholat yg disitu terdapat gerakan ruku dan sujud. Apalagi wudlu terasa sekali beratnya saat musim dingin. Sekalipun begitu, wudlu itu harus dilakukan dengan perasaan ringan.

Bagi para sahabat Nabi, apapun perintah Allah dan Rasul-Nya tetap dirasa ringan dan akan dilaksanakan dengan ringan. Sementara di sekeliling kita, masih banyak umat islam yang merasa berat melakukan perintah Allah. Bahkan ekstrimnya, tidak sedikit yang bersuara keras al-Quran perlu di amandemen.

Salam,

Bu Lilik


Fenomena Pandemi Covid-19


Perintah Toharoh Al-Maidah Ayat 6 Bagian II

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

Corona

FENOMENA PANDEMI COVID-19

 ۖإِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوافَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ
وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

 Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau
yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa
perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah
maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang
yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya
petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.
(Q.S. Al-Baqoroh 26) IkhtisarAyat ini menyasar orang-orang munafiq. Orang munafiq sering mempertanyakan ayat-ayat
Al-Quran. Bukan karena tak paham pada ayat, tetapi tidak menerima (ayat dianggap tidak
logis atau tidak rasional). Bagaimana mungkin kitab Al-quran yang diagungkan, malah
membicarakan binatang yang remeh seperti nyamuk, bahkan lebih rendah atau kecil dari
nyamuk.             Peristiwa corona (virus covid-19) membuktikan hal itu. Bagaimana Allah membuktikan
kuasa-Nya. hampir semua negara geger karena virus yang sangat kecil itu. Semoga peristiwa
corona ini menjadi jalan kembalinya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Al-Quran
karena ketidakrasionalannya. 

Salam,

Bu Lilik

Sumber: Kajian Tafsir Ibnu Katsir oleh K.H. Abdul Wahid Hasyim


Perintah Thoharoh Al-Maidah Ayat 6 Bagian I


Perintah Thoharoh Al-Maidah Ayat 6 Bagian II

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Komplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru