CIRI USTADZ IDEAL (3)

CIRI USTADZ IDEAL (3)

Pribadi Teladan

Kedua: mampu mengajar, mendidik dan menjadi teladan.

Selain memiliki kemampuan mengajar, idealnya orang yang menjadi rujukan kita dalam bidang agama, juga memiliki kemampuan untuk mendidik, membentuk pribadi dan menjadi teladan.

Dalam khazanah keilmuan Islam, dikenal dengan istilah akhlak. Akhlak ternyata tidak sama dengan perbuatan manusia.

Seorang dengan karakter pelit tidak serta merta dapat dikatakan dermawan hanya dengan sebuah pemberian yang suatu hari dilakukannya.

Akhlak juga tidak dimaknai sebatas keinginan untuk berbuat baik.

Akhlak adalah sebuah potensi dalam diri yang mampu menjadi pemacu si empunya untuk melakukan sebuah perbuatan baik.

Ketika dermawan sudah menjadi akhlak seseorang, secara otomatis dia akan ringan kaki memberi kepada yang membutuhkan, kapanpun di manapun.

Imam Malik berkata, “Belajarlah adab sebelum belajar ilmu”. (Kitab Hilyatu’l Auliâ jilid 6, halaman 330).

Dalam ilmu hadis, selain kuat hafalannya, seorang penyampai hadis juga dituntut untuk memiliki sifat al-`Adalah. Artinya: orang yang tidak pernah melakukan dosa besar, tidak membiasakan diri melakukan dosa kecil serta menjaga kepribadian (murû’ah) dengan menghindari hal-hal yang kurang pantas dilakukan meskipun secara hukum ia mubah/boleh.

Seorang panutan dalam agama yang ideal, tidak hanya pandai menyampaikan ilmu, tapi juga mampu mengantarkan murid-muridnya dalam menempuh jalan menuju Allah Ta’ala.

Puncak dari akhlak tertinggi adalah derajat ihsan. Ialah ‘menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya atau engkau merasa bahwa Allah selalu Melihatmu’.

Hal ini merupakan implementasi dari ilmu tauhid.

Memiliki seorang guru dan panutan yang mampu membimbing pribadi muslim merupakan tradisi peradaban Islam.

Khalifah Harun al-Rasyid pernah menitipkan putranya, al-Amin, kepada Khalaf al-Ahmar untuk dibentuk akhlaknya.

Guru yang demikian ini, lebih dari sekedar guru yang mengajarkan ilmu. Guru yang semacam ini haruslah menguasai ilmu syariat dan ilmu akhlak yang kemudian dikenal dengan istilah ulama Rabbani, yang mampu menuntun orang yang belajar kepadanya dalam perjalanan menuju ridha Allah.

Sehingga, apabila ditarik kesimpulan seperti apakah ‘ustadz’ yang ideal?

Beliau adalah orang yang mumpuni ilmu agamanya, mengamalkan ilmunya dalam kehidupannya dan mampu membimbing muridnya untuk membentuk pribadi muslim yang diridhai Allah.

Dengan bahasa yang lebih praktis, bagaimana kita menentukan siapa yang akan kita jadikan ustadz/guru kita yang akan kita jadikan rujukan dalam ilmu agama? Kita dari melihat dari:

1. Kapasitas keilmuannya. Salah satunya terlihat dari asal usul pendidikan agamanya dan kemampuannya dalam bahasa Arab/membaca kitab;

2. Pribadinya yang lurus: dalam hal akidah (bukan penganut aliran sesat), ibadah dan prilakunya;

3. Mampu untuk membimbing kita dalam peningkatan kualitas keagamaan, hal ini akan terlihat seiring berjalannya proses belajar kita.

WalLaahu a`lamu bi al-Shawaab…

Ust. Musa al Azhar, Lc. Dipl.

Pasca Sarjana, Jurusan Hadits dan Ilmu Ilmu Hadits, Fak. Ushuluddin, Univ. Al Azhar Cairo.

Kontributor Jaringan Sekolah BIAS untuk Mesir dan Timur Tengah.

POINT ILMU MANTIQ Ilmu mantik adalah qanun berfikir, oleh karenanya, di setiap

CIRI USTADZ IDEAL (1) Sebuah langkah maju dari orang yang ditumbuhi kesadaran dari Allah Ta`âla untuk

CIRI USTADZ IDEAL (2) Kembali ke topik kriteria Ustadz atau siapapun yang layak dijadikan rujukan dan

GALERI

Hubungi Kami
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu
Bina Anak Sholeh Yogyakarta

Hari Kerja (Senin – Jumat) : 07.00 – 16.00 WIB
Sabtu : 08.00 – 14.00 WIBKomplek Perkantoran BIAS 
Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru